Belajar dari cangkir


Siang ini, -yang mana memang dalam  beberapa bulan terakhir saya sedang dalam proses yang sangat berat- namun saya tetap berusaha tetap pada pijakan positif thinking. Saya tahu betul bahwa positif thinking, berfikir positif akan membawa saya kepada serangkaian keputusan sehingga kondisi yang sedang saya lewati ini akan menjadi lebih baik. Saya tahu itu.

Seperti bagaimana saya melewati hari-hari sebelumnya -seberat apapun itu- tetap ada harapan untuk terus menjalani ini semua, dan hari ini sepertinya jalan mulai terbuka. Bahkan lebih besar dan lebih cepat dari yang saya perkirakan.

Tetap menjadi positif dalam kondisi seperti yang saya alami sekarang bukanlah hal mudah. Saya tidak akan share tentang masalah, atau tepatnya saya anggap tantangan hidup yang sedang saya hadapi, saya lebih suka untuk berbagi tentang bagaimana pola hidup dalam mengangkat derajat manusia.

Saya banyak belajar pada apa yang telah saya lalui. Ketika kita duduk dibangku sekolah dulu, dan untuk bisa naik ke level yang lebih tinggi kita harus melewati ujian atau tes. Selalu seperti itu, baik kenaikan kelas atau pun kenaikan jenjang pendidikan ke yang lebih tinggi.

Saya tahu betul bagaimana rasanya sungguh tidak enak!, dan tingkat stress kita cenderung meningkat ketika melewati masa-masa itu. Tidak jarang kita merasa bahwa tidak mungkin kita sanggup untuk melewati itu semua. Tapi lihat.. lihatlah.. lihat diri kita sekarang, masih ada bukan? dan di jenjang manapun anda, yang jelas anda lebih tinggi dari jenjang sebelum anda melewati ujian tersebut.

Sama halnya dengan apa yang sedang saya hadapi sekarang, saya tahu betul bahwa “cara” kehidupan menempa kita adalah seperti itu. Pertolongan akan datang, jawaban akan segera kita peroleh ketika kita betul-betul di titik nyaris “tidak kuat lagi”. Ibarat karet, cobaan hidup akan terus dan terus menarik sampai titik muai yang maksimal!, yang ketika ditarik lagi pasti putus, nah seperti itulah caranya, ketika kita di titik maksimal itu, barulah jawaban akan muncul.

Anda tahu cangkir? dulu dia hanya sebongkah tanah liat, tanah liat itu harus di injak, di cangkuli, dibentuk sedemikian rupa dengan cara dipukul, diputar-putar, dan seterusnya sampai menjadi bentuk yang dikehendaki oleh “sang pencipta” cangkir tersebut, setelah bentuknya sesuai dengan harapan, belum selesai pula!, masih harus dibakar.. sudah dibakar, masih juga harus di cat. 🙂

Lihat rentetan ‘penyiksaan’ yang harus tanah liat lewati untuk menjadi cangkir yang bermanfaat bagi manusia. Indah bukan? dan seharusnya jangan kita lawan segala prosesi tersebut, nikmatilah!! seperti tanah liat di cerita cangkir tersebut, saat dia di dalam proses dicangkul, mungkin dia tidak tahu mau di jadikan apa.. dia hanya mengikuti prosesnya dengan positif thinking : bahwa apapun yang sedang dialami nya  adalah serangkaian proses untuk menjadikannya bentuk yang lebih indah dan lebih bermanfaat.

Begitu juga anda saudara, apapun yang sedang anda alami sekarang, teruskan dan nikmati segala proses tersebut. Kalau saat di tempa (pada pelajaran cangkir diatas) tanah liat menolak, hanya ada dua kemungkinan, yaitu menjadi cangkir afkiran atau dibuang begitu saja, menjadi sampah.

Semoga bermanfaat saudara, tetap semangat karena semua proses ini hanya akan menjadikan diri kita lebih baik dan lebih bermanfaat.

Semangat!!

Advertisements

One response to “Belajar dari cangkir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s